Kamis, 21 November 2019

Kunker PPRD Paser dan PPU ke Samsat Karang Ploso-Malang Utara

Inovasi Jemput Bola ke Wajib Pajak untuk Peningkatan PAD Kaltim 

Kunjungan kerja UPTD PPRD Paser dan PPU ke Samsat Karang Ploso-Malang Utara (ist/ki)
MALANG, KABARINDONESIA.CO.ID-Kunjungan kerja dilakukan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kaltim UPTD Pelayanan Pajak dan Retribusi Daerah (PPRD) wilayah Paser dan Penajam Paser Utara (PPU). Jajaran tersebut berkunjung ke Kantor Samsat Karang Ploso, Malang Utara,  Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/11/2019). 

Dihubungi media ini, Kepala UPTD PPRD wilayah Paser Suyoso Nantra SSos MM menegaskan, pihaknya melakukan kunjungan kerja ke Kantor Samsat Karang Ploso-Malang, sebagai bagian untuk inovasi-inovasi demi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kaltim. 

Sabtu, 16 November 2019

Bhakti Kesehatan RSTKA: Ironis, Mantri Kesehatan Meninggal di Atas Kapal







Perawat senior puskesmas pembantu di Pulau Sailus, Syahri Rudi yang sudah mengabdi selama 38 tahun. Dia meninggal dunia ketika dalam perjalanan mencari kesembuhan setelah terkena stroke, saat menumpang kapal perintis menuju ke Makassar.



Ny. Darmawan memegang foto kenangan suaminya, mendiang Syahri Rudi, seorang tenaga perawat senior di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa (Pulau) Sailus. Pulau terluar di wilayah Pangkep, Sulawesi Selatan. Mendiang Syahri meninggal dunia di atas kapal perintis, saat membawa dia berjuang untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit Makassar. Perjalanan itu membutuhkan waktu 20 jam.
PENGANTAR: Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) setiap tahun melakukan aksi bhakti kesehatan di pulau-pulau terluar, khususnya di Indonesia timur. Akhir Oktober hingga awal November 2019, kapal kesehatan dari Surabaya itu melaksanakan tugas kemanusiaan kepulauan Kabupaten Pangkep. Butuh 20 jam perjalanan laut dari Makassar menuju wilayah di Sulawesi Selatan itu. Di bawah ini Gandi Wasono M menuliskan kisah-kisah tenaga kesehatan memberikan pelayanan disana.
KISAH memilukan tentang minimnya pelayanan kesehatan itu juga menimpa almarhum Syahri Rudi, warga Desa Sailus, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep. Dia seorang tenaga medis (perawat) yang sudah mengabdi selama 38 tahun di pulau sebuah desa terluar wilayah Pangkep.
Mendiang Syahri pada tahun 2018 lalu meninggal diatas kapal dalam perjalanan dari Sailus menuju Makassar, setelah terkena serangan stroke mendadak. “Bapak meninggal dunia diatas kapal perintis menuju Makassar,” kata Ny. Darmawan, istri Syahri ketika ditemui di rumahnya di Desa Sailus.
Apa yang dialami oleh Syahri merupakan sebuah ironi.  Bapak dua anak tersebut adalah adalah perawat senior yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya sebagai tenaga kesehatan bagi warga masyarakat kepulauan. Tetapi meski dirinya sebagai pejuang kesehatan tetapi akhirnya harus meninggal dunia di atas kapal ketika berjuang mencari kesembuhan ke Makassar.


Petugas medis dari Rumah Sakit Terapung Ksastria Airlangga (RSTKA) memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang sedang  berobat. Mereka selalu memanfaatkan kesempatan pelayanan kesehatan gratis  di wilayah yang sangat kekurangan fasilitas kesehatan mauun tenaga medis itu.


Warga masyarakat penghuni pulau-pulai terluar kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, selalu saja menyerbu datang ke lokasi sandari Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga. Seorang warga sedang mendapat peayanan medis di Puskesmas setempat yang dilayanioleh dokter dan ahli medis dari RSTKA yang sedang melakukan bahkti kesehatan rutin tahunan.
Pada tahun 1982, Syahri pindah dari Pulau Sapuka, untuk mengabdikan diri menjadi tenaga perawat di Pustu Pulau Sailus. Kendati saat itu Sailus jauh terbelakang, namun tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk mengikhlaskan diri mengabdikan untuk masyarakat di wilayah kepulauan itu.
Setiap hari masyarakat kepualauan datang kepadanya untuk mencari kesembuhan. Karena saat itu tenaga medis sangat langka, sehingga mau tak mau dalam kondisi tertentu dirinya dituntut berperan ganda untuk menghadapi berbagai jenis sakit yang diderita masyarakat.
Bahkan demi bisa melayani dan mengobati pasien dari satu pulau ke pulau lain, Syahri membuat sampan atau perahu kecil sebagai sarana transportasi untuk menjangkau berbagai pulau kecil lainnya. Ia tak peduli dengan keselamatan diri sendiri saat harus berjuang menembus ganasnya gelombang.
Semua itu bukan semata-mata mencari imbalan. Karena ketika mengobati pasien, Syahri sama sekali tidak penah mematok tarif jasanya, bahkan bagi pasien tidak mampu dia sengaja menggratiskan. “Bapak tidak mencari duit semata, tetapi lebih mengutamakan kemanusiaan,” papar Darmawan, yang bertemu dan menikah dengan Syahri di Desa Sailus.


Seorang warga sedang mendapat pemeriksaan menggunakan USG saat berbat di atas kapal yang digunakan untuk Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA).


Seorang dokter hali sedang melakukan melakukan pemeriksaan menggunakan USG terhadap pasien di atas kapal yang dijadikan Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA) yang melakukan kegiatan bhakti kesehatan secara rutin tiap tahun di wilayah pulau-pulau terluar di Indonesia Bagian Timur.
Karena kedekatannya dengan masyarakat, ketika menjelang masa pensiun sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas pun, masyarakat dari berbagai pulau masih kerap datang ke rumahnya untuk mencari kesembuhan.
“Tetapi, kalau pas jam kerja bapak tidak mau melayani. Bapak minta pasien datang ke Puskesma di Desa Sailus yang sekarang memang sudah ada tenaga perawat dan bidan. Bapak baru mau melayani diluar jam dinas,” imbuh Darma yang dikaruniaia dua anak dalam pernikahannya dengan mendiang Syahri.


Kapal kayu phinisi ini digunakan sebagai Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA), yang diguakan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga masyarakat penghuni pulau-pulau terluar di wilayah Indonesia bagian timur.


Inilah kapal kayu jenis Phinisi yang digunakan sebagai Tma Sakit Terapung, setiap tahun keliling pulau-pulau terluar di Indonesia bagian timur, Sebagai rumah sakit, maka di atas kapal itu terdapat dokter hali, tenaga edis, peralatan kedokteran, sampai perlengkapan melakukan operasi.
Namun suatu hari pada tahun 2018 sebuah peristiwa terjadi. Tiba-tiba ketika sedang tidur siang suaminya terkena serangan stroke. Singkat cerita, karena saat itu bertepatan datang kapal perintis ke pulaunya, maka suaminya langsung diboyong naik menuju rumah sakit di Makassar agar mendapat perawatan.
Karena suaminya sudah sangat dikenal pengabdiannya, sehingga selain tenaga kesehatan dari Puskesmas sampai camat dan perangkat desa ikut mengantarkan ke Makassar. Tetapi Tuhan berkehendak lain, setelah sehari semalam diatas kapal keesokan, masih harus setengah hari lagi sampai Makassar Syahri meninggal dunia.
“Kami semua tidak bisa berbuat sesuatu kecuali hanya sedih,” papar Darma sambil mengatakan seandainya di wilayah kepulauan tempat tinggalnya ada dokter dan sarana kesehatan memadai, maka peristiwa yang menimpa suamimya tidak akan terjadi. (*/ps)

Paragraph

Jumat, 15 November 2019

Bhakti Kesehatan RSTKA: Bidan Nike Berjibaku 9 Jam di Laut Antar Pasien Hamil ke Sumbawa



Kegiatan rutin tahunan Rmah Sakit Terapung Ksatria Airlangga yang berpusat di Surabaya menyelenggarakan kegiatan rutin pelayanan kesehatan gratis kepada warga masyarakat di Indonesia Bagian Timur. Khususnya penghuni pulau-oulau teruar yang jauh dari jangakauan pelayanan kesehatan.
Kapal Rumah Sakit Ksatria Airlangga yang berlabuh di Pangkep untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga penghuni pulau terluar di Indonesia bagian timur.


PENGANTAR: Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) setiap tahun rutin melakukan bhakti kesehatan di pulau-pulau terluar, khususnya di Indonesia timur. Akhir Oktober hingga awal November 2019, kapal kesehatan dari Surabaya itu melaksanakan tugas kemanusiaan kepupalaun Kabupaten Pangkep. Butuh 20 jam perjalanan laut dari Makassar menuju wilayah di Sulawesi Selatan itu. Di bawah ini kisah-kisah tenaga kesehatan memberikan pelayanan disana.Di bawah ini laporan Gandi Wasono M yang ditulis bersambung.

NIKE Indria (23) tak bisa melupakan kejadian di bulan Februari 2019 lalu, ketika membantu menangani persalinan seorang ibu. Cerita tersebut sangat membekas karena membetot rasa kemanusiaannya. Ceritanya menjelang subuh ada seorang keluarga pasien datang ke tempat tinggalnya sebagai bidan di Puskesamas Pembantu (Pustu) di Desa Satenger, Pangkep, Sulsel.
 
Ia diminta untuk membantu persalinan Rosana. Awalnya persalinan tersebut ditangani seorang dukun bayi desa setempat, tetapi karena ada masalah sang dukun bayi tidak mampu mengatasi sehingga meminta bantuan dirinya.

Begitu datang ia melihat kondisi ibu yang baru pecah ketuban itu memburuk dan sangat mengkhawatirkan. “Komplikasi menjelang kelahiran membuat Bu Rosana selain kesakitan, juga kadang dibarengi dengan kejang-kejang tak sadarkan diri,” kata Nike Indria, ketika ditemui di Puskesmas Pulau Sailus, tempat Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) memberikan pelayanan kesehatan.

Bidan Nike Indria, bidan tenaga harian di Puskesman pembantu (Pustu) desa Setenger, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan,
Nike Indria (kiri sedang tertawa) merupakan bidan bestatus tenaga harian di Puskesmas Pembantu di Desa Satenger, Pangkep, Sulsel. Sebagai bidan harian sebulan dia mendapat honor Rp 500.000, itu  pun dibayar tiga bulanan.
SEMBILAN JAM YANG MENDEBARKAN
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan Nike angkat tangan. Ia tak memiliki kemampuan cukup untuk menangani persalinan seperti yang dialami Rosana yang berisiko tinggi. Satu-satunya jalan ibu yang melahirkan untuk anak keduanya tersebut harus segera dirujuk ke rumah sakit di Sumbawa.

Sumbawa dianggap lebih dekat. Meski memasuki wilayah provinsi lain tetapi “hanya” membutuhkan waktu 9 jam perjalanan laut dianggap waktu paling cepat, dibandingkan harus ke Makassar yang memerlukan waktu dua hari dua malam lamanya.

Tanpa membuang waktu, di tengah kepanikan, di hari yang masih gelap tersebut suami Rosana mencari perahu nelayan disewa untuk membawa istrinya ke rumah sakit di Sumbawa.

“Tetapi dasar apes, posisi perahu itu kandas baru bisa jalan pukul 07.00 pagi menunggu sampai air pasang,” kata Nike yang saat itu dia stres karena harus berjuang dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa si ibu dan anak dalam kandungannya.

Nike tak bisa melupakan masa yang penuh keteganggan di sepanjang perjalanan. Ketika perahu yang ditumpang membelah laut yang bergelombang dia juga berusaha dengan kemampuan yang dimiliki menjaga menstabilkan kondisi tubuh Rosana yang naik turun tak menentu.

Ia masih ingat ketika baru setengah perjalanan dan perahu melintas di sekitar Pulau Moyo, tiba-tiba Rosana fisiknya memburuk. Ibu yang bersuamikan seorang nelayan tersebut tiba-tiba kejang-kejang tak sadarkan. Meski panik ia berusaha tenang. Agar tak melukai bibir dan lidahnya, bibir Rosana yang mengatup kuat itu diganjal menggunakan sendok.

Warga desa di pulau pulau terluar wilayah Indonesia timur, selalu berharap kehadiran dan pelayanan Rumah Sakit Terpaung Ksatria Airlangga. Pada saat kepala ini sandar di sebuah pulau selalu saja diserbu warga yang membutuhkan pertolongan kesehatan.
“Tak bisa digambarkan bagaimana tegangnya saat itu. Kepala saya yang semula agak pusing dan mual karena goncangan ombak langsung mendadak hilang,” kata gadis asal Desa Satanger yang sudah mengabdi bertahun-tahun sebagai bidan honorer harian tersebut.

Di tengah kekalutan amat sangat tersebut, yang terlintas di benak Nike hanya satu bagaimana perahu tersebut melaju dengan cepat sehingga bisa segera tiba di Sumbawa. “Karena saya tahu kondisi Bu Rosana sudah sangat kritis. Ibaratnya ini adalah perjuangan antara hidup dan mati,” imbuhnya.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat mendebarkan baru sekitar pukul 16.00-an perahu yang membawa Rosana bersama keluarga besarnya merapat di dermaga Sumbawa. Tanpa membuang waktu Rosana bergegas dibawa menuju RSUD Sumbawa menggunakan angkutan umum.

Beruntung, dokter kebidanan seketika itu langsung menangani dengan cepat. Melalui proses operasi caesar lahir bayi perempuan lahir dengan selamat. Tetapi, lagi-lagi paska persalinan kondisinya kesehatan Rosana kembali memburuk, hingga pukul 21.00 dokter tidak mampu mengatasi dan akhirnya nyawa Rosana tidak tertolong.

Begitu meninggal dunia sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat jenazah Rosana tidak dibawa pulang tetapi dimakamkan di Sumbawa. Bagi warga kepulaun itu ada semacam pantangan perahu digunakan untuk membawa jenazah.

“Masyarakat yang ada di pulau sini seperti itu. Jadi mau tak mau jenazah mendiang Ibu Rosana dimakam di seberang,” papar Nike yang sampai saat ini bila teringat peristiwa tersebut tak bisa membendung air matanya.

Sebagai masyarakat kepualauan Nike meminta pemerintah turun tangan secara serius menyediakan sarana kesehatan yang merata sekaligus dengan seorang dokter. Agar kejadian seperti Rosana itu tidak terulang.


“Yang dialami Rosana ini adalah satu dari sekian kejadian yang seringkali terjadi,” kata Nike yang gajinya sebagai tenaga bidan harian lepas Rp 500 ribu per bulan itu pun baru diterima setiap 3 atau 4 bulan sekali.(*/ps)

Sabtu, 26 Oktober 2019

Suyoso Nantra : Kabinet Indonesia Maju Harus Bekerja Serius, Perekonomian Harus Kuat

Pengamat sosial politik tanah air, Suyoso Nantra
BALIKPAPAN, KABARINDONESIA.CO.ID-Lengkap sudah tersusun kabinet Indonesia Maju, kepemimpinan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin periode 2019-2024. Termasuk 12 wakil menteri (wamen) yang sudah dilantik, untuk mendampingi para menteri di pos-pos kementerian yang dinggap perlu adanya Wamen.  Tak disangkal, komposisi kabinet Indonesia Maju, cukup gemuk, hal itu mengakomodir kepentingan partai politik, termasuk elemen pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin.

Hal ini mendapat sorotan dari berbagai pengamat di tanah air, salah satunya pengamat sosial politik Suyoso Nantra SSos MM. Menurut Suyoso Nantra, adalah hak prerogatif presiden dalam menentukan susunan para pembantunya di kementerian atau lembaga-lembaga setingkat lainnya. Namun lebih ditekankan, bagaimana dengan kerja kabinet Indonesia Maju nantinya? Apakah efekfif? Dan yang terpenting, menurut Suyoso Nantra, apakah bisa menjawab tantangan zaman sekarang, dan mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa yang terjadi, menjadikan rakyat lebih sejahtera dan makmur. 


Senin, 21 Oktober 2019

Sutoyo Mantan Wartawan Peroleh Penghargaan sebagai Pioner Pendidikan Kriya

Sutoyo (paling kiri) bersama para tokoh lainnya memperoleh tanda penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam acara pembukaan pameran perhiasan internasional di Shangri-La, Surabaya.



SURABAYA— Gubernur Khofifah Indar Parawansa memberikan tanda penghargaan kepada mantan wartawan Suara Indonesia, Sutoyo Bsc, sebagai Pioner Pendidikan Kriya Perhiasan. Penyerahan dilaksanakan pada acara pembukaan Surabaya International Jewellery Fair (SIJF) ke-24, 17-20 Oktober 2019.

Dua hari menjelang acara itu, telepon selulernya berdering: “Pak mohon diisi formulir yang saya kirim, terus dokumen yang disebutkan serta surat-surat lainnya,” kata petugas dari Dinas Perindustrian Jawa Timur yang menghubungi dirinya.

Minggu, 20 Oktober 2019

Jokowi – Ma'ruf Mengayomi Seluruh Rakyat


KETUA MPR Bambang Soesatyo mengajak semua elemen masyarakat untuk mensyukuri rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa karena pada hari ini Bangsa Indonesia boleh mengambil sumpah jabatan dan pelantikan Presiden RI serta Wakil Presiden RI periode 2019 – 2024.

Dengan pelantikan Presiden RI dan Wakil Presiden RI hari ini oleh MPR RI, sosok Presiden terpilih Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin legitimate memimpin bangsa dan negara untuk periode lima tahun ke depan. Melekat pada kedua pemimpin adalah hak dan kewajiban melaksanakan UUD 1945, termasuk hak prerogatif membentuk formasi kabinet.

Peristiwa bersejarah hari ini menandai langkah maju Indonesia mengejawantahkan demokrasi Pancasila, sekaligus sebagai kekuatan untuk terus menapaki modernisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberlanjutan kepemimpinan Presiden Joko Widodo dari hasil pemilihan Presiden yang demokratis patut dipahami sebagai kehendak rakyat Indonesia agar Demokrasi Pancasila terus ditumbuhkembangkan.

Jumat, 18 Oktober 2019

Beda Kapabelitas Komunikasi Politik Jokowi dengan Para Menterinya



Pelaksanaan Focus Group Discussion di Program Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, mengambil tema: Kinerja dan Komunikasi Politik Kabinet 2014-2019 dan Harapan Masa Depan Kabinet Kerja II 


JAKARTA-- Selama periode pemerintahan  2014-2019,  Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap masyarakat  memiliki kemampuan sebagai komunikator yang baik, namun sayangnya kemampuan ini tidak dimiliki sebagian besar para menterinya.

“Sebagai presiden yang memiliki tingkat popularitas yang tinggi,  Jokowi juga dinilai bisa berpikir out of the box.  Namun apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tidak sepenuhnya diikuti oleh para menteri atau anggota kabinet lainnya,” kata Ketua Program Studi  Doktor Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Dr.Pinckey Triputra dalam pemaparan hasil analisis riset komunikasi di Jakarta, Jumat (18/10).

Kegiatan untuk terus bisa berhubungan dengan rakyatnya sering dilakukan oleh Jokowi dengan menggunakan media sosial sehingga kemampuan ini makin mendorong popularitas Jokowi, kata Pinckey Triputra.

Kesimpulan ini merupakan hasil analisis dari  diskusi dengan para unsur masyarakat melalui acara Focus Group Discussions (FGD) yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta yang bekerjasama dengan komunitas peneliti yang tergabung dalam asosiasi Conquire pada 28 September 2019 bertempat di Kampus Sekolah Pasacasarjana Universitas Sahid, Jakarta.

FGD ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif terhadap beberapa kelompok spesifik yang  mewakili masyarakat di Jakarta. Tema yang diangkat adalah mengenai Kinerja dan Komunikasi Politik Kabinet 2014-2019 dan Harapan Masa Depan Kabinet Kerja II yang disusun oleh presiden yang baru terpilih pada pemilu 2019.

Sebanyak  14 narasumber dalam FGD ini diminta untuk memberikan pendapat dan harapan secara evaluatif terhadap kondisi komunikasi politik saat Kabinet Kerja Pertama ini, pendapat mengenai tokoh-tokoh politik saat ini, pandangan terkait kebijakan yang diambil berbagai kementerian, dan saran-saran untuk perbaikan kinerja kabinet kerja masa depan.

Tujuan dari FGD ini adalah untuk mendapatkan apa yang dinginkan masyarakat dari berbagai kementerian serta ekspektasi secara umum terhadap kabinet pemerintahan untuk periode kepemimpinan presiden 2019-2024.

Salah satu hasil temuan, yakni Jokowi dianggap mampu menciptakan suasana yang mendorong ke arah dialog yang lebih terbuka dan Presiden Jokowi dinilai mempunyai kompetensi komunikasi dalam menyajikan pesan yang jelas, dan atraktif. Di samping itu, Presiden Jokowi juga mampu untuk mengakomodasi kepentingan masyrakat, khususnya masyarakat diperbatasan dengan membuka  akses komunikasi yang setara.


Peserta FGD setuju mengatakan bahwa bahwa banyak menteri yang tidak kredibel di bidang komunikasi politiknya. Tidak memiliki strategi  manajemen dalam krisis komunikasi. Tidak memiliki kecepatan dalam memberikan respon jika terjadi krisis komunikasi  seperti hoax, fake news dan sebagainya. 

 “Perbedaan ini menyebabkan Jokowi dinilai baik dalam berkomunikasi sedangkan para menterinya dinilai buruk. Dengan adanya perbedaan komunikasi politiknya, maka pemerintah Jokowi sering dinilai tidak memihak kepada rakyat,” kata Pinckey Triputra.

Berbeda dengan pendahulunya, Jokowi memasuki bursa Pemilu saat mengalami kelimpahan persepsi yang positif yang antara lain ditunjukkan dengan besarnya dukungan dalam perolehan berbagai jajak pendapat. Nyaris semuanya diperoleh berkat citra Jokowi sebagai sosok yang dinilai berjiwa kerakyatan, mandiri, santun, moderat dan punya social quotient tinggi dalam menghadapi persoalan. Lebih penting lagi, Jokowi ditampilkan dalam citra tokoh perubahan.

Menguatnya citra Jokowi pada saat itu tentunya disebabkan oleh karena kepiawaian Jokowi dalam memanfaatkan media. Kepandaian Jokowi dalam memanfaatkan media ini terlihat dari  pendapat atau persepsi kinerja kabinet lalu atau pendapat atau persepasi umum atau terhadap berbagai kebijakan kementerian yang menonjol secara positif dan negatif kabinet yang lalu (2014-2019) serta komunikasi Politik yang dilakukan Presiden Joko Widodo dan Kabinetnya.

Terdapat temuan yang menarik dalam FGD ini.  Secara Umum,  Presiden Jokowi dinilai oleh para nara sumber, memiliki kemampuan/ kematangan personal yang baik dalam mengatasi tekanan politik dan sosial.  Jokowi juga dinilai mampu membuat perubahan di berbagai bidang antara lain pembangunan di daerah dan infrastruktur. Nara sumber juga berpendapat bahwa Presiden Jokowi  mampu meningkatkan kesadaran kebangsaan dengan selalu mengedepankan kebhinekaan dalam segala hal.

Narasumber dalam FGD ini juga menilai bahwa media, oleh karena memiliki kedekatan dengan Jokowi menjadi tidak berpihak kepada rakyat. Media sering dilihat sebagai institusi yang hanya mendahulukan kepentingan kelompok tertentu.  Akibatnya, dengan kecenderungan media yang kurang berpihak kepada masyarakat, maka publik atau khalayak kurang mendapat informasi yang konprehensif mengenai kebijakan pemerintah.
Para narasumber dalam FGD Universitas Sahid Jakarta membe-
rikan pendapat dan pandangan-pandangan.


Ketika para narasumber ditanyakan “apa harapan untuk pemerintah yang akan datang ?” maka kebanyakan dari mereka setuju bahwa, menteri dalam kabinet yang mendatang   harus mampu memiliki kredibilitas, kompetensi dalam komunikasi politik dan sosialnya yang baik, dan juga harus memiliki kemampuan untuk merancang pesan yang sangat menarik/atraktif dan juga jelas.

Dalam sektor ekonomi, Presiden Jokowi juga dipersepsikan mampu untuk menumbuhkan kepercayaan kepada investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, dan kepercayaan investor. Namun demikian terdapat beberapa masalah sosial, lingkungan hidup, masalah korupsi, di mana mekanisme penyampaian aspirasi rakyat yang  belum selesai sampai akhir periode kabinet Kerja I.

          Nara sumber yang dijadikan peserta FGD berjumlah 14 orang terdiri dari mereka yang berasal dari berbagai latar belakang antara lain kelompok pemuda, perempuan, akademisi, budayawan, politisi, profesional dan media.(*)


TERKINI

Space Available

Jadwal Penerbangan Bandara Juanda Surabaya