Minggu, 17 November 2019

Bhakti Kesehatan RSTKA: Ironis, Mantri Kesehatan Meninggal di Atas Kapal







Perawat senior puskesmas pembantu di Pulau Sailus, Syahri Rudi yang sudah mengabdi selama 38 tahun. Dia meninggal dunia ketika dalam perjalanan mencari kesembuhan setelah terkena stroke, saat menumpang kapal perintis menuju ke Makassar.



Ny. Darmawan memegang foto kenangan suaminya, mendiang Syahri Rudi, seorang tenaga perawat senior di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa (Pulau) Sailus. Pulau terluar di wilayah Pangkep, Sulawesi Selatan. Mendiang Syahri meninggal dunia di atas kapal perintis, saat membawa dia berjuang untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit Makassar. Perjalanan itu membutuhkan waktu 20 jam.
PENGANTAR: Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) setiap tahun melakukan aksi bhakti kesehatan di pulau-pulau terluar, khususnya di Indonesia timur. Akhir Oktober hingga awal November 2019, kapal kesehatan dari Surabaya itu melaksanakan tugas kemanusiaan kepulauan Kabupaten Pangkep. Butuh 20 jam perjalanan laut dari Makassar menuju wilayah di Sulawesi Selatan itu. Di bawah ini Gandi Wasono M menuliskan kisah-kisah tenaga kesehatan memberikan pelayanan disana.
KISAH memilukan tentang minimnya pelayanan kesehatan itu juga menimpa almarhum Syahri Rudi, warga Desa Sailus, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep. Dia seorang tenaga medis (perawat) yang sudah mengabdi selama 38 tahun di pulau sebuah desa terluar wilayah Pangkep.
Mendiang Syahri pada tahun 2018 lalu meninggal diatas kapal dalam perjalanan dari Sailus menuju Makassar, setelah terkena serangan stroke mendadak. “Bapak meninggal dunia diatas kapal perintis menuju Makassar,” kata Ny. Darmawan, istri Syahri ketika ditemui di rumahnya di Desa Sailus.
Apa yang dialami oleh Syahri merupakan sebuah ironi.  Bapak dua anak tersebut adalah adalah perawat senior yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya sebagai tenaga kesehatan bagi warga masyarakat kepulauan. Tetapi meski dirinya sebagai pejuang kesehatan tetapi akhirnya harus meninggal dunia di atas kapal ketika berjuang mencari kesembuhan ke Makassar.


Petugas medis dari Rumah Sakit Terapung Ksastria Airlangga (RSTKA) memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang sedang  berobat. Mereka selalu memanfaatkan kesempatan pelayanan kesehatan gratis  di wilayah yang sangat kekurangan fasilitas kesehatan mauun tenaga medis itu.


Warga masyarakat penghuni pulau-pulai terluar kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, selalu saja menyerbu datang ke lokasi sandari Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga. Seorang warga sedang mendapat peayanan medis di Puskesmas setempat yang dilayanioleh dokter dan ahli medis dari RSTKA yang sedang melakukan bahkti kesehatan rutin tahunan.
Pada tahun 1982, Syahri pindah dari Pulau Sapuka, untuk mengabdikan diri menjadi tenaga perawat di Pustu Pulau Sailus. Kendati saat itu Sailus jauh terbelakang, namun tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk mengikhlaskan diri mengabdikan untuk masyarakat di wilayah kepulauan itu.
Setiap hari masyarakat kepualauan datang kepadanya untuk mencari kesembuhan. Karena saat itu tenaga medis sangat langka, sehingga mau tak mau dalam kondisi tertentu dirinya dituntut berperan ganda untuk menghadapi berbagai jenis sakit yang diderita masyarakat.
Bahkan demi bisa melayani dan mengobati pasien dari satu pulau ke pulau lain, Syahri membuat sampan atau perahu kecil sebagai sarana transportasi untuk menjangkau berbagai pulau kecil lainnya. Ia tak peduli dengan keselamatan diri sendiri saat harus berjuang menembus ganasnya gelombang.
Semua itu bukan semata-mata mencari imbalan. Karena ketika mengobati pasien, Syahri sama sekali tidak penah mematok tarif jasanya, bahkan bagi pasien tidak mampu dia sengaja menggratiskan. “Bapak tidak mencari duit semata, tetapi lebih mengutamakan kemanusiaan,” papar Darmawan, yang bertemu dan menikah dengan Syahri di Desa Sailus.


Seorang warga sedang mendapat pemeriksaan menggunakan USG saat berbat di atas kapal yang digunakan untuk Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA).


Seorang dokter hali sedang melakukan melakukan pemeriksaan menggunakan USG terhadap pasien di atas kapal yang dijadikan Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA) yang melakukan kegiatan bhakti kesehatan secara rutin tiap tahun di wilayah pulau-pulau terluar di Indonesia Bagian Timur.
Karena kedekatannya dengan masyarakat, ketika menjelang masa pensiun sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas pun, masyarakat dari berbagai pulau masih kerap datang ke rumahnya untuk mencari kesembuhan.
“Tetapi, kalau pas jam kerja bapak tidak mau melayani. Bapak minta pasien datang ke Puskesma di Desa Sailus yang sekarang memang sudah ada tenaga perawat dan bidan. Bapak baru mau melayani diluar jam dinas,” imbuh Darma yang dikaruniaia dua anak dalam pernikahannya dengan mendiang Syahri.


Kapal kayu phinisi ini digunakan sebagai Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA), yang diguakan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga masyarakat penghuni pulau-pulau terluar di wilayah Indonesia bagian timur.


Inilah kapal kayu jenis Phinisi yang digunakan sebagai Tma Sakit Terapung, setiap tahun keliling pulau-pulau terluar di Indonesia bagian timur, Sebagai rumah sakit, maka di atas kapal itu terdapat dokter hali, tenaga edis, peralatan kedokteran, sampai perlengkapan melakukan operasi.
Namun suatu hari pada tahun 2018 sebuah peristiwa terjadi. Tiba-tiba ketika sedang tidur siang suaminya terkena serangan stroke. Singkat cerita, karena saat itu bertepatan datang kapal perintis ke pulaunya, maka suaminya langsung diboyong naik menuju rumah sakit di Makassar agar mendapat perawatan.
Karena suaminya sudah sangat dikenal pengabdiannya, sehingga selain tenaga kesehatan dari Puskesmas sampai camat dan perangkat desa ikut mengantarkan ke Makassar. Tetapi Tuhan berkehendak lain, setelah sehari semalam diatas kapal keesokan, masih harus setengah hari lagi sampai Makassar Syahri meninggal dunia.
“Kami semua tidak bisa berbuat sesuatu kecuali hanya sedih,” papar Darma sambil mengatakan seandainya di wilayah kepulauan tempat tinggalnya ada dokter dan sarana kesehatan memadai, maka peristiwa yang menimpa suamimya tidak akan terjadi. (*/ps)

Paragraph

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERKINI

Space Available

Jadwal Penerbangan Bandara Juanda Surabaya